Namaku Angga. Murid baru di
sekolah. Umurku 15 tahun. Anak kedua dari empat bersaudara. Tidak terlalu bisa
dalam olahraga, namun juga tidak terlalu pandai dalam pelajaran. Aku tidak punya
kemampuan spesial apapun, sampai aku tiba di sekolah ini. Dan disinilah ceritaku
dimulai.
Pagi hari pertama masuk sekolah,
aku datang terlalu awal. Jam 06.00 WIB, padahal upacara bendera baru akan dimulai
jam 07.30 WIB. Tentu saja aku punya alasan kenapa datang sepagi itu. Aku tidak
mau mendapat kursi di barisan depan dan harus menderita duduk di barisan depan
selama setahun ke depan. Ya, sekolah ku masih dengan sistem lama yang
mengharuskan guru yang datang ke kelas-kelas. Pagi itu, kukira aku yang pertama
kali masuk ke kelas. Ternyata ada seorang anak perempuan yang sudah duduk di
kursi pojok di barisan depan, tepat di depan meja guru. Anak itu berambut
panjang sebahu, dengan poni yang sama panjangnya dengan rambutnya yang lain. Ia
menunduk membaca buku yang diletakkannya di meja, sehingga membuat wajahnya
tidak terlihat. Karena aku tidak kenal, dan sepertinya dia tidak ramah maka aku
mengurungkan niat untuk menyapanya. Aku masuk kelas dan meletakkan tasku di
kursi baris ketiga (ada lima barisan), di sisi yang berlawanan dengan anak itu.
Selama sepuluh menit tidak ada yang
datang ke kelas. Dari kursiku hanya terlihat beberapa orang yang berlalu lalang
di depan pintu. Aku rasa mereka penjaga kantin yang ada di sekolah ini. Anak
itu masih tetap diam dan membaca bukunya. Karena aku merasa bosan dan lapar,
maka aku keluar dan berniat ke kantin untuk sarapan. Aku memutuskan ke kantin
di pojok kanan sekolah, karena itu yang paling dekat dengan kelasku. Sekolahku
hanya satu lantai dan berbentuk persegi panjang mengelilingi lapangan tengah
dengan empat kantin di setiap pojoknya. Standar sekolah negeri di kabupaten di daerah
yang bukan ibukota propinsi.
Sesampainya di kantin, aku memesan mi
instan dan duduk di pojokan. Di kantin cuma ada aku dan si mbak penjaga kantin.
Usia mbak ini kisaran dua puluh lima tahunan. Ramah dan keliatan gesit. Mungkin
karena dia penjaga kantin, makanya harus ramah ke semua orang. Lima belas menit
setelah aku pesan, mbak kantin tersebut mengantar makanan ke mejaku dan duduk
di kursi di depanku mengajakku ngobrol. Mungkin karena tidak ada pelanggan
lain, makanya si mbak santai ngobrol.
“Anak baru ya? Namanya siapa?”
“Angga mbak. Mbak namanya siapa?
“Tiara. Kamu yang tadi dikelas X-1 ya?”
lanjut mbak Tiara. Wajahnya terlihat penasaran. Mungkin dia takut salah mengenali
orang.
“Iya mbak. Kok tau?” tanyaku balik
ke mbak Tiara.
“Iya, tadi mbak waktu lewat situ lihat
kamu sendirian dikelas. Rajin banget kamu jam segini udah datang ke sekolah. Anak
baru sih ya. Masih semangat sekolah. Hehe.” Mbak tiara menjawab sambal ketawa
kecil.
Oh, mbak toh tadi yang lewat
pikirku. Eh, tapi apa mbak Tiara gak lihat cewek tadi ya? Dia kan harusnya
langsung terlihat karena posisinya langsung terlihat dari pintu. Karena penasaran
aku langsung menjawab dan bertanya balik ke mbak Tiara.
“Gak sendirian kok mbak. Tadi ada
anak cewek juga di kelas. Yang duduk di depan. Masa mbak gak lihat?”
“Lah, kamu udah diajak kenalan toh
sama si Sekar? Dia tadi ngapain?”
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba
ada beberapa anak masuk ke kantin dan ingin memesan makanan juga. Sekitar lima
sampai enam anak, disusul oleh seorang bapak yang sudah berumur, berpakaian
rapi, kemeja dengan celana berbahan kain dan berkacamata masuk ke kantin. Bapak
itu membawa beberapa kotak makanan ringan. Sepertinya beliau ayah mbak Tiara,
karena waktu beliau masuk, mbak Tiara membantu membawakan kotak makanan ringan tersebut
dan menyalam bapak itu.
“Nanti aja kita lanjutin ya Ngga.
Mbak mau bikin makanan anak-anak dulu. Atau ntar pulang sekolah kamu ke kios
komik mbak aja. Diseberang jalan, di belakang sekolah ya.” Raut wajah mbak Tiara
terlihat penasaran, tapi harus pergi dan membuat amakanan anak-anak lain dulu.
“Iya mbak.” Jawabku asal. Karena aku
sebenarnya berniat langsung pulang ke rumah siang ini.
“Kenapa ra?” Ayah mbak Tiara
bertanya ke mbak Tiara
“Itu pa, si Sekar udah ngajak
kenalan.”
“Oh, gapapa itu.” kata Ayah mbak
Tiara sambal melihatku.
Sebenarnya aku kurang paham arah
pembicaraan mereka, tapi yasudahlah aku coba manggut-manggut mengiyakan saja.
Karena sudah selesai makan, maka aku kembali ke kelas. Sekolah sudah mulai
ramai karena jam sudah menunjukkan pukul 07.00 WIB. Aku tidak terlalu ambil pusing
soal percakapan dengan mbak Tiara di kantin tadi, sampai aku tiba di kelas dan
mendengar cerita dari anak-anak di kelasku.

Komentar
Posting Komentar